Dari Abu Hurairah r.a. bahawa Nabi Muhammad s.a.w. bersabda:

"Apabila seorang manusia mati, putuslah (tulisan pahala) amalan (setakat itu) Kecuali tiga perkara (yang akan berlanjutan tulisan pahalanya) iaitu sedekah jariah atau ilmu memberi kepada yang faedah orang lain atau anak yang soleh yang berdoa untuknya."


Bagaimana menundukkan NAFSU

“Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari nafsunya, maka sungguh syurgalah tempat tinggalnya” (An-Naziat, 79:40-41)

Bagaimana menundukkan Nafsu
Oleh: Abu Muhammad Fadhlillah Ramadhani 

Nafsu adalah bagian dari jiwa
manusia yang selalu mengajak kepada kejahatan dan penyelewengan. Untuk bisa mencapai hadirat Ilahi yang suci,
seseorang harus mampu menundukkan dorongan-dorongan nafsu ini.
Rasulullah saw bersabda: "Siapa yang mampu menundukkan nafsunya, surgalah tempatnya. Sebaliknya, siapa yang
mengikuti hawa nafsunya, neraka tempat kembalinya." Sahal At-Tastary berkata: "Sejelek-jelek maksiat adalah
menurutkan bisikan nafsu. Banyak manusia yang tidak menyadari akan hal ini. Bila seorang murid mampu menjaga
dirinya dari gejolak nafsu dan melakukan dzikir, hatinya menjadi bersinar dan terjaga. Setan lari menjauh, sehingga
gejolak perasaannya menjadi ringan. Saat itu, ia menjadi mudah untuk menundukkannya." Lalu bagaimana cara
menundukkannya? Cara Menundukkan Nafsu Untuk menundukkan nafsu, ada beberapa cara yang bisa dilakukan
antara lain:
Pertama :
mengurangi makan sedikit demi sedikit. Sebab, dengan mengurangi makan, maka energi nafsu
menjadi lemah sehingga akhirnya ia mudah ditundukkan.
Kedua :
berpuasa dan menahan lapar. Ini penting, sebab
gejolak nafsu memang tidak bisa ditundukkan selain dengan lapar.
Dalam salah satu Hadits yang diriwayatkan oleh
Imam Bukhari, dinyatakan bahwa: "Rasulullah saw sampai wafatnya belum pernah sekalipun kenyang, walau dengan
roti dan gandum." Syeikh Imam Muhammad Al Mahdi Abdullah, kepada murid-muridnya sering bercerita bagaimana
hebatnya perlawanan nafsu kepada Allah. 

Ketika Allah pertama kali menciptakan nafsu, Allah SWT bertanya kepadanya:
"Wahai nafsu, siapa engkau dan siapa Aku ini?" 

Nafsu menjawab: 
"Engkau adalah engkau dan aku adalah aku." 

Lalu
Allah melemparkan nafsu ke dalam api beberapa tahun lamanya dibakar, kemudian diangkat dan ditanya kembali:
"Wahai nafsu siapa Aku dan siapa dirimu?"  

Nafsu menjawab:  
"Engkau adalah engkau dan aku adalah aku." 

Lalu Allah
mempuasakan nafsu beberapa tahun lamanya, kemudian ditanya lagi: 
"Wahai nafsu, siapa Aku dan siapa dirimu?"
Nafsu baru mengakui bahwa: 
"Engkau adalah Tuhanku Yang Maha Agung, dan aku hamba-Mu yang lemah." 

Hal yang
sama juga diceritakan oleh Muhyiddin ibn Arabi dalam sebuh kitabnya yang berjudul: Futuhat al-Makkiyah.  

Dikatakan
bahwa, ketika pertama kali menciptakan nafsu, 
Allah SWT bertanya kepadanya: "Siapa Aku?" 

Nafsu membangkan dan
balik bertanya: "Siapa pula aku ini?" 

Allah murka kepadanya, kemudian memasukkan nafsu ke dalam lautan lapar
sampai 1000 (seribu) tahun. 

Kemudian ditanya lagi, "Siapa Aku?." 

Setelah diajar dengan lapar barulah
nafsu mengakui siapa dirinya dan Tuhannya. 
"Engkau adalah Tuhanku Yang Maha Agung, dan aku hamba-Mu yang
lemah." 
Sejalan dengan hal tersebut, Abu Sulaiman ad-Darani juga berkata: 
"Kunci dunia adalah kenyang dan kunci
akhirat adalah lapar." 

Maksudnya, Allah memberikan ilmu dan hikmah pada orang-orang yang lapar karena berpuasa
dan menjadikan kebodohan dan tindak kemaksiatan pada mereka yang kenyang. Jadi makan kenyang dan nafsu adalah
dua komponen yang saling mendukung. 



Yahya ibn Mu'adz ar-Razi menyatakan :
kenyang ibarat api, sedang nafsu ibarat
kayu kering. 

Kayu nafsu yang membara karena energi makanan tidak akan mati sampai membakar habis orang
bersangkutan. 

Karena itulah, maka kemudian Sahal ibn Abdullah menyatakan, 
siapa yang makan lebih dari dua kali
sehari, maka hendaknya ia bersiap-siap menjadi kuda liar. 

Selain itu, nafsu juga bisa diibaratkan sebagai anak
sapi yang nakal. Untuk menundukkannya, anak sapi perlu dilaparkan, ditutupi kedua matanya dan diputar-putar pada
gilingan kosong sambil dipukuli. Setelah sekian lama, ia akan menjadi tunduk dan menjadi penurut. Setelah itu, barulah
dilepaskan penutup kedua matanya.
Ketiga :
Bangun solat malam (mengurangi tidur) dan melakukan
amalan-amalan yang berat. Jadi sedapat mungkin kita berusaha mengurangi tidur. Sebab tidur itu sediri ibarat mati.
Bahkan dalam sebuah Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dikatakan: "Banyak tidur akan
mematikan hati." Ketika sedang tidur, seseorang tidak bisa melakukan sesuatu yang bermanfaat, baik untuk
kepentingan dunia maupun akhirat.

Memilih tidur daripada bangun shalat malam misalnya, berarti sama dengan kita
telah menurutkan hawa nafsu. 
Hal ini juga sekaligus menjadi petunjuk bahwasanya dalam diri seseorang seperti ini,
belum ada rasa cinta kepada Allah SWT. 



Syaddad bin Aus meriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabda: 
"Orang yang
cerdik adalah orang yang mampu menundukkan nafsunya dan bekerja untuk sesuatu yang akan datang setelah
kematian (akhirat). Dan orang yang lemah adalah orang yang mengikuti hawa nafsunya dan berangan-angan pada
(kemurahan) Allah." (THR. Tirmidzi dan Ibnu Majah). Sebaliknya, dengan bangun shalat malam, akan menghancurkan
dan melepaskan manusia dari empat unsur kejadiannya: air, tanah, udara dan api. Selanjutnya, mereka akan mampu
naik dan melihat alam malakut, alam ":atas" yang tidak bisa dilihat dengan mata biasa. Dengan demikian, ia akan
semakin bergairah dalam mencari keridhaan Allah SWT.

Abu Hasan al-Azzaz menyatakan: 
Persoalan ini (manusia
mampu mencapai alam malakut) dibangun atas tiga dasar: 

Pertama : tidak makan sampai merasa lapar; 
Kedua : tidak
tidur sampai sangat mengantuk; 
dan Ketiga : tidak berbicara bila tidak perlu.

Sehubungan dengan hal tersebut, Ibn al-
Hawari mengatakan, seseorang yang ingin masuk ke hadirat Ilahi tetapi tidak meninggalkan tiga masalah : 

1) Pengaruh
harta, 2) makan, dan 3) tidur, 
maka itu berarti omong kosong. 

Jadi tiga hal inilah sesungguhnya yang merupakan sarana dan
kebutuhan dasar nafsu yang banyak menjerumuskan manusia. Apalagi misalnya, harta dan makanan yang didapatkan
dan dikomsusi itu dari sumber yang haram. Katakanlah dari hasil mencuri atau korupsi. Maka dapat dipastikan bahwa
hal tersebut akan menjadikan pelakunya semakin jauh dari keridhaan Allah. Ibadahnya Tidak Diterima Allah




Seseorang yang memiliki harta dan mengkonsumsi makanan yang haram, ibadahnya tidak akan diterima oleh Allah
SWT. Meskipun ia rajin shalat tahajjud, puasa sunnah, dan telah menunaikan ibadah haji, semua itu sia-sia belaka

Oleh
karenanya, perlu adanya etika dan perbuatan baik (amal shaleh) yang sesuai dengan Hukum Allah dan Rasul-Nya, yakni
al-Quran dan Hadits Nabi saw. 
Dalam al-Quran Allah SWT berfirman: 
"Hai orang-orang yang beriman, ruku'lah kamu,
sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan.
" (QS. Al-Hajj [22]
: 77). 
Hadits-hadits dibawah ini cukup menjelaskan hal tersebut. Antara lain, diriwayatkan dari Abdurrahman bin Suhail
(Abu Hurairah) ra, bahwa Rasulullah saw bersabda: "Allah itu adalah baik dan tidak akan menerima kecuali yang baik.
Dan Allah memerintahkan orang-orang mukmin dengan sesuatu yang juga diperintahkan kepada para rasul. Allah
berfirman: Hai para rasul, makanlah dari sesuatu yang baik dan lakukan amal shaleh.
Dan Allah juga berfirman:
Hai
orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu. Setelah itu, beliau
menyebutkan seorang laki-laki yang melakukan perjalanan jauh, dalam keadaan kotor (berdebu) dan pakaian yang
kusut. Dia menengadahkan kedua tangannya ke langit sambil berkata: Ya Tuhanku, ya Tuhanku. Sementara itu
makanannya adalah haram. Minumannya haram. Pakaiannya haram. Dan dia dipenuhi dengan makanan yang haram.
Maka bagaimana doanya bisa dikabulkan?" (THR. Imam Muslim). Salah seorang sahabat pernah berkata (kepada
Rasulullah saw): Berilah kami wasiat! Rasulullah saw bersabda: "Hal pertama yang membuat busuk seseorang adalah
perutnya. Maka siapa yang mampu untuk tidak makan kecuali makanan yang halal hendaknya dia melakukannya. Dan
siapa yang mampu untuk tidak menghalangi antara dirinya dan surga dengan segenggam darah yang dia tumpahkan
maka hendaknya dia melakukannya." (THR. Imam Bukhari). 

Dalam kitab asy-Syu'ab al-Iman, Imam Baihaqi mengutip
pernyataan Yusuf bin Asbah yang menyatakan: 

"Ketika syaithan melihat seorang Muslim yang begitu khusyu' dalam
ibadahnya tetapi dia tidak menjaga makanannya secara baik, apakah didapat dari sumber yang halal atau haram, maka
syaithan itu memberitahukan kepada syaithan yang lainnya untuk tidak usah mengganggu ibadahnya, dan tetap
membiarkan apa yang dilakukannya. Sebab sekali pun ibadahnya baik (benar) tetapi tiada satu pun yang akan diterima
oleh Allah karena makanannya tidak halal." 




Dari Miqdad bin Ma'di Kariba: Aku mendengar Rasulullah saw bersabda:
"Seseorang tidak memenuhi suatu wadah yang lebih jelek dibandingkan perut. Cukuplah bagi anak cucu Adam
beberapa suap makanan yang (dengan makanan tersebut) bisa menegakkan tulang punggungnya. Jika dia harus
melakukannya, sepertiga untuk makanannya, sepertiga untuk minumnya dan sepertiga untuk nafasnya."
(THR. Tirmidzi
dan Ibnu Majah). 
Wajar ketika baru pulang dari perang Badar yang dimenangkan kaum Muslimin, Rasulullah saw
mengatakan: "Kita baru saja pulang dari perang kecil." Sahabat heran, lalu Rasulullah saw bersabda: "Perang yang lebih
besar adalah melawan hawa nafsu." Jadi sekarang ini sesungguhnya kita sedang menghadapi peperangan yang lebih
besar melawan hawa nafsu. 

Demikianlah beberapa Hadits yang merupakan nasihat dan pesan dari Rasulullah saw
yang hendaknya menjadi pegangan bagi kita dalam menjalani kehidupan di dunia. Semoga Allah SWT memberi
kesempatan kepada kita untuk melaksanakan nasihat dan pesan mulia tersebut. Sebab di sanalah letaknya menemukan
hakikat kesejahteraan, derajat dan kesuksesan kita, baik di dunia maupun di akhirat. 

InsyaAllah. Amiin…

No comments: